Rabu, 27 Maret 2013

Komunikasi Lintas Budaya: Sahala Nainggolan


Tugas Akhir
Mata Kuliah          : Penggembalaan Lintas Budaya
Program               : Magister Teologi 
PT                       : STT Bethesda Bekasi
Mahasiswa           : Sahala Nainggolan
Dosen                  : Dr. Yonas Muanley, M.Th.

Pengantar Dosen

Tugas Akhir ini merupakan pemantapan dari tugas awal dengan topik yang telah dipilih mahasiswa, dan telah dipresentasikan dalam ruang kuliah. Kemudian tugas awal dimantapkan/didalami lagi untuk kemudian dikumpulkan sebagai tugas akhir
Adapun tugas akhir Saudara Sahala Nainggolan adalah "Komunikasi Lintas Budaya" (KLB). Komunikasi Lintas Budaya merupakan salah satu bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pelayanan pastoral yang bersifat lintas budaya. Maka jelaslah bahwa, para gembala atau pendeta, anggota jemaat yang melayani di kota-kota besar seperti Bekasi, Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia tidak dapat mengabaikan pelayanan terhadap anggota jemaatnya/sesama anggota jemaat yang beragam budaya. Di kota-kota besar, di jemaat-jemaat lokal, para anggota jemaatnya berasal dari berbagai budaya, dengan kata lain jemaatnya multikultur. Dalam konteks ini komunikasi lintas budaya tidak dapat diabaikan. Salah satu tugas gereja yang memerlukan komunikasi adalah tugas penggembalaan. Komunikasi lintas budaya tidak hanya dipelajari untuk pelayanan antar pulau, antar negara, antar benua, tetapi juga dalam  jemaat lokal di kota-kota besar. Apa dan bagaimana komunikasi lintas budaya yang hendak diperhatikan dalam tugas pelayanan penggembalaan lintas budaya? Jawabannya simak dalam tugas mahasiswa yaitu Sahala Nainggolan berikut ini.

BAB I
PENDAHULUAN

Masyarakat Indonesia sejak dulu sudah dikenal sangat heterogen dalam berbagai aspek, seperti adanya keberagaman suku bangsa, agama, bahasa, adat istiadat dan sebagainya. Di lain pihak, perkembangan dunia yang sangat pesat saat ini dengan mobilitas dan dinamika yang sangat tinggi, telah menyebabkan dunia menuju ke arah global yang hampir tidak memiliki batas-batas lagi sebagai akibat dari perkembangan teknologi modern.
Oleh karenanya masyarakat (dalam arti luas) harus sudah siap menghadapi situasi-situasi baru dalam konteks keberagaman kebudayaan atau apapun namanya. Interaksi dan komunikasi harus pula berjalan satu dengan yang lainnya, adakah sudah saling mengenal atau pun belum pernah sama sekali berjumpa apalagi berkenalan.
Dalam berkomunikasi dengan konteks keberagaman kebudayaan kerap kali menemui masalah atau hambatan-hambatan yang tidak diharapkan sebelumnya. Misalnya saja dalam penggunaan bahasa, lambang-lambang, nilai atau norma-norma masyarakat dan lain sebagainya. Pada hal syarat untuk terjalinya hubungan itu tentu saja harus ada saling pengertian dan pertukaran informasi atau makna antara satu dengan lainnya. Dari itu mempelajari komunikasi dan budaya merupakan satu hal yang tidak dapat dipisahkan.
Komunikasi dan budaya mempunyai hubungan timbal balik, seperti dua sisi mata uang. Budaya menjadi bagian dari prilaku komunikasi dan pada gilirannya komunikasi pun turut menentukan memelihara, mengembangkan atau mewariskan budaya seperti yang dikatakan Edward T. Hall bahwa komunikasi adalah Budaya dan Budaya adalah komunikasi. Pada satu sisi, komunikasi merupakan suatu mekanisme untuk mensosialisasikan norma-norma budaya masyarakat, baik secara “horizontal” dari suatu masyarakat kepada masyarakat lainnya, ataupun secara vertikal dari suatu generasi ke generasi berikutnya. Pada sisi lain, budaya merupakan norma-norma atau nilai-nilai yang dianggap sesuai untuk kelompok tertentu.
Pentingnya peranan komunikasi dan budaya maupun sebaliknya, maka perlu sebagai hamba Tuhan mempelajari situasi dan budaya dimana jemaat atau tempat kita melayani adalah suatu keadaan yang multiliteral.
Hal tersebut bukan sampai disitu saja, akan tetapi jemaat atau masyarakat yang ada disekitar kita atau yang kita gembalain, belum tentu juga memiliki budaya dimana ia berada. Hal ini disebabkan bisa saja ia sebagai pendatang didaerah tersebut dan membawa budayanya sendiri. Contoh suku Batak yang tinggal di kota Jakarta. Mereka masih memengang budaya mereka dalam berbagai acara seperti kematian, pernikahan. Mereka tinggal di kota Jakarta, tapi tidak menggunakan budaya Betawi. Hal-hal ini yang perlu dicermati oleh seorang gembala sidang dalam korelasinya terhadap budaya. Hal ini supaya pelayanan lebih efektif.
BAB II
PEMBAHASAN

KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA

A.      PENGERTIAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA
Kata “budaya” berasal dari bahasa sansekerta buddhayah yang merupakan bentuk jamak dari kata buddhi, yang berarti “budi” atau “kaal”. Kebudayaan itu sendiri diartikan sebagai “ hal-hal yang berkaitan dengan budi atau akal”.
Istilah culture, yang merupakan istilah bahasa asing yang sama artinya dengan kebudayaan, berasal dari kata “colere” yang artinya adalah “mengolah atau mengerjakan”, yaitu dimaksudkan kepada keahlian mengolah dan mengerjakan tanah atau bertani. Kata colere yang kemudian berubah menjadi ulture diartikan sebagai “segala daya dan kegiatan manusia untuk mengolah dan mengubah alam” (Soekanto, 1996:188).
Seorang Antropolog yang bernama E.B. Taylor (1871), memberikan defenisi mengenai kebudayaan yaitu “kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, lain kemampuan-kemampuan dan kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat”. (Soekanto, 1996:189).
Berbicara mengenai komunikasi lintas budaya, maka kita harus melihat dulu beberapa defenisi yang dikutif oleh Ilya Sunarwinadi (1993:7-8) berdasarkan pendapat para ahli antara lain :
a.       Sitaram (1970) : Seni untuk memahami dan saling pengertian antara khalayak yang berbeda kebudayaan.
b.      Samovar dan Porter (1972) : Komunikasi antar budaya terjadi manakalah bagian yang terlibat dalam kegiatan komunikasi tersebut membawa serta latar belakang budaya pengalaman yang berbeda yang mencerminkan nilai yang dianut oleh kelompoknya berupa pengalaman, pengetahuan, dan nilai.
c.       Rich (1974) : Komunikasi antar budaya terjadi ketika orang-orang yang berbeda kebudayaan.
d.      Stewart (1974) : Komunikasi antara budaya yang mana terjadi dibawah suatu kondisi kebudayaan yang berbeda bahasa, norma-norma, adat istiada dan kebiasaan.
e.       Sitaram dan Cogdell (1976) : Komunikasi antar budaya …interaksi antara para anggota kebudayaan yang berbeda.
f.       Carley H.Dood (1982) : Komunikasi antar budaya adalah pengiriman dan penerimaan pesan-pesan dalam konteks perbedaan kebudayaan yang menghasilkan efek-efek yang berbeda.
g.      Young Yun Kim (1984) : Komunikasi antar budaya adalah suatu peristiwa yang merujuk dimana orang – orang yang terlibat di dalamnya baik secara langsung maupun tak tidak langsung memiliki latar belakang budaya yang berbeda.

Seluruh defenisi diatas dengan jelas menerangkan bahwa ada penekanan pada perbedaan kebudayaan sebagai faktor yang menentukan dalam berlangsungnya proses komunikasi lintas budaya. Komunikasi antar budaya memang mengakui dan mengurusi permasalahan mengenai persamaan dan perbedaan dalam karakteristik kebudayaan antar pelaku-pelaku komunikasi, tetapi titik perhatian utamanya tetap terhadap proses komunikasi individu-individu atau kelompok-kelompok yang berbeda kebudayaan dan mencoba untuk melakukan interaksi.
Komunikasi dan budaya yang mempunyai hubungan timbal balik, seperti dua sisi mata uang. Budaya menjadi bagian dari perilaku komunikasi, dan pada gilirannya komunikasi pun turut menentukan, memelihara, mengembangkan atau mewariskan budaya. Pada satu sisi, komunikasi merupakan suatu mekanisme untuk mensosialisasikan norma-norma budaya masyarakat, baik secara horizontal, dari suatu masyarakat kepada masyarakat lainnya, ataupun secara vertikal dari suatu generasi ke generasi berikutnya. Pada sisi lain budaya menetapkan norma-norma (komunikasi) yang dianggap sesuai untuk kelompok tertentu.

Timbul pertanyaan, mengapa kita mempelajari Komunikasi Lintas Budaya?
  1. untuk menghindari gegar budaya.
  2. untuk menghindari kesalahpahaman
  3. untuk mengindari pertentangan budaya yang satu dengan yang lain.

B.       DEMENSI-DEMENSI KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA (KLB)
Dalam suatu kebudayaan yang ada, pasti memiliki ciri-ciri kebudayaan yang satu berbeda dengan ciri-ciri budaya di daerah lain.
·           budaya bukan bawaan tetapi dapat dipelajari
·           budaya dapat disampaikan dari orang ke orang, kelompok ke kelompok dan dari generasi ke generasi.
·           budaya berdasarkan symbol
·           budaya bersifat dinamis, suatu system yang terus berubah sepanjang waktu
·           budaya bersifat selektif, mereprentasikan pola-pola perilaku pengalaman manusia yang jumlahnya terbatas
·           berbagai unsur budaya saling berkaitan
·           etnosentrisme.

Dari tema pokok demikian, maka perlu pengertian – pengertian operasional dari kebudayaan dan kaitannya dengan KLB. Untuk mencari kejelasan dan mengintegrasikan berbagai konseptualisasi tentang kebudayaan komunikasi antar budaya, ada 3 dimensi yang perlu diperhatikan (kim. 1984 : 17-20).
(1)   Tingkat masyarakat kelompok budaya dari partisipan-partisipan komunikasi.
Istilah kebudayaan telah digunakan untuk menunjuk pada macam-macam tingkat lingkungan dan kompleksitas dari organisasi sosial. Umumnya istilah kebudayaan mencakup :
a.  Kawasan – kawasan di dunia, seperti : budaya timur/barat.
b.  Sub kawasan-kawasan di dunia, seperti : budaya Amerika Utara atau Asia Tenggara,
c.  Kawasan Nasional/Negara, seperti, : Budaya Indonesia, Perancis atau Jepang.
d.  Kelompok-kelompok etnik-ras dalam negara seperti : budaya orang Amerika Hitam, budaya Amerika Asia, budaya Cina Indonesia,
e. Macam-macam subkelompok sosiologis berdasarkan kategorisasi jenis kelamin kelas sosial. Countercultures (budaya Happie, budaya orang di penjara, budaya gelandangan, budaya kemiskinan).

Perhatian dan minat dari ahli-ahli KAB banyak meliputi komunikasi antar individu–individu dengan kebudayaan nasional berbeda (seperti wirausaha Jepang dengan wirausaha Amerika/Indonesia) atau antar individu dengan kebudayaan ras-etnik berbeda (seperti antar pelajar penduduk asli dengan guru pendatang). Bahkan ada yang lebih mempersempit lagi pengertian pada “kebudayaan individual” karena seperti orang mewujudkan latar belakang yang unik.

(2)   Konteks sosial tempat terjadinya KLB,
Macam KLB dapat lagi diklasifikasi berdasarkan konteks sosial dari terjadinya. Yang biasanya termasuk dalam studi KLB :
a.  Business
b  Organizational
c.  Pendidikan
d.  Alkulturasi imigran
e.  Politik
f  Penyesuaian perlancong/ pendatang sementara
g.  Perkembangan alih teknologi/pembangunan/ difusi inovasi
h.  Konsultasi terapis.

Komunikasi dalam semua konteks merupakan persamaan dalam hal unsur- unsur dasar dan proses komunikasi manusia (transmitting, receiving, processing). Tetapi adanya pengaruh kebudayaan yang tercakup dalam latar belakang pengalaman individu membentuk pola-pola persepsi pemikiran.
Jadi konteks sosial khusus tempat terjadinya KLB memberikan pada para partisipan hubungna-hubungan antar peran. Ekpektasi, norma-norma dan aturan-aturan tingkah laku yang khusus.

(3)   Saluran yang dilalui oleh pesan-pesan KLB (baik yang bersifat verbal maupun nonverbal).
Dimensi lain yang membedakan KAB ialah saluran melalui mana KAB terjadi. Secara garis besar, saluran dapat dibagi atas :
a.   Antar pribadi/interpersonal/person-person,
b.   Media massa.

C.      TUJUAN MEMPELAJARI BUDAYA
  1. Menyadari bias budaya sendiri
  2. Lebih peka secara budaya
  3. Memperoleh kapasitas untuk benar-benar terlibat dengan anggota dari budaya lain untuk menciptakan hubungan yang langgeng dan memuaskan orang tersebut.
  4. Merangsang pemahaman yang lebih besar atas budaya sendiri
  5. Memperluas dan memperdalam pengalaman seseorang
  6. Mempelajari keterampilan komunikasi yang membuat seseorang mampu menerima gaya dan isi komunikasinya sendiri.
  7. Membantu memahami budaya sebagai hal yang menghasilkan dan memelihara semesta wacana dan makna bagi para anggotanya
  8. Membantu memahami kontak antar budaya sebagai suatu cara memperoleh pandangan ke dalam budaya sendiri: asumsi-asumsi, nilai-nilai, kebebasan-kebebasan dan keterbatasan-keterbatasannya.
  9. Membantu memahami model-model, konsep-konsep dan aplikasi-aplikasi bidang komunikasi antar budaya.
  10. Membantu menyadari bahwa sistem-sistem nilai yang berbeda dapat dipelajari secara sistematis, dibandingkan, dan dipahami.

Dodd (1982) membagi situasi perbedaan antar budaya, khususnya yang biasa dimasukkan ke dalam pengertian komunikasi subbudaya (Subcultural Communications) ke dalam :
(1)          Interethnic Communication:
Yaitu komunikasi antara dua atau lebih orang dari luar latar belakang etnik yang berbeda)”…. Communications between two or more persons from different ethnic backgrounds”). Kelompok etnik adalah kumpulan orang yang dapat dikenal secara unik dari warisan tradisi kebudayaan yang sama, yang seringkali asalnya bersifat nasional.
Contohnya di AS : Italian American, Polish American. Mexican American, Puerto Rican American. Di Indonesia, tentunya yang dimaksud dengan kelompok etnik ialah berbagai suku bangsa yang ada dalam wilayah negara Indonesia, seperti : Suku Jawa, Sunda, Batak, Minang, dll, yang bisa melampaui batas subwilayah secara geografik.

(2)          Interracial Communication
Yakni komunikasi antara dua atau lebih orang dari latar belakang ras yang berbeda (“communication between two or more persons of differing racial background”). Sedangkan ras yang diartikannya sebagai ciri-ciri penampilan fisik yang diturunkan dan diwariskan secara genetik. Pokok perhatian yang penting disini adalah bahwa perbedaan-perbedaanras menyebabkan perbedaan-perbedaan perseptual yang menghambat berlangsungnya komunikasi, bahkan sebelum ada sama sekali usaha untuk berkomunikasi.

(3)          Countercultural Communinication :
Melibatkan orang-orang dari budaya asal atau pokok yang berkomunikasi dengan orang-orang dari subbudaya yang terdapat dalam budaya pokok tadi (“….involves persons from a parent culture communication with persons from subcultures within the parent culture”). Dengan mengutip perumusan Prosser tentang Countercultural Communication (lihat di depan), Dodd pada pokoknya menekankan sifat dari subbudaya pada situasi khusus antar budaya di sini yang menolak nilai-nilai yang sudah diakui masyarakat luas (‘establisment values’) saat ini.

(4)          Social Class Communication:
Beberapa perbedaan antara orang-orang adalah berdasarkan atas status yang ditentukan oleh pendapatan, pekerjaan dan pendidikan. Perbedaan ini menciptakan kelas-kelas sosial dalam masyarakat. Menyertai perbedaan ini adalah perbedaan dalam hal pandangan, adat kebiasaan dan lain sebagainya. Walaupun dalam beberapa hal tertentu kelas-kelas sosial ini memiliki bersama aspek-aspek kebudayaan pokoknya.

(5)          Group Membership :
Merupakan unit-unit subbudaya yang cukup menonjol. Berdasarkan homogenitas dalam karakteristik – karakteristik ideologik, ditambah dengan loyalits kelompok, banyak perbedaan-perbedaan antar kelompok yang meletus menjadi konflik serius. Misalnya perang antara kaum protestan dan katolik di Irlandia Utara atau perang antara penganut agama Islam dan Kriten di Libanon. Juga faktor – factor jenis kelamin, tempat tinggal (seperti daerah rural atau urban) dan umur dapat menentukan perbedaan – perbedaan kelompok (group) ini.

Selain pembagian mengenai perbedaan antar subbudaya tersebut, Dodd juga merumuskan International Communication sebagai komunikasi antara negara- negara oleh media massa, cara-cara diplomatik dan saluran-saluran antar pribadi lainnya. Yang menjadi titik pusat perhatian disini bukanlah bentuk dari pesan, melainkan kenyataan bahwa variabel-variabel geografik politik dan nasionalitas mendominasi transaksi yang terjadi. Contohnya adalah perjanjian perdamaian di Paris, Perjanjian perdamaian di Camp David, sebagai contoh dari konperensi tingkat tinggi antar negara, serta kegiatan yang dilakukan oleh VOA.
Dua istilah yang paling sering digunakan secara berganti-ganti, untuk menunjuk pada suatu pengertian yang sama ialah “Crosscultural Communication” dan “Interncultural Communication”. Tetapi ada sementara ilmuwan yang membuat perbedaan mendasar antara keduanya, seperti Prosser, Howel dan Kim.

CROOSCULTURAL COMMUNICATION
Komunikasi secara kolektif antara anggota kelompok–kelompok orang yang menjadi pendukung kebudayaan yang berbeda.
 “A comparison of some phenomena across culutres”
INTERCULTURAL COMMUNICATION
Komunikasi antar personal (pribadi) pada tingkat individu antara anggota kelompok-kelompok budaya yang berbeda.
“Interaction between people from different cultures”


D.      KAITAN ANTARA KOMUNIKASI DAN KEBUDAYAAN
Dari berbagai definisi tentang KAB seperti yang telah dibahas sebelumnya, dampak bahwa unsur pokok yang mrndasari proses KAB ialah konsep-konsep tentang “Kebudayaan” dan “Komunikasi”. Hal ini pun digarisbawahi oleh Sarbaugh (1979:2) dengan pendapatnya bahwa pengertian tentang komunikasi antar budaya memerlukan suatu pemahaman tentang konsep-konsep komunikaasi dan kebudayaan serta saling ketergantungan antara keduanya. Saling ketergantungan ini terbukti, menurut Serbaugh, apabila disadari bahwa:
1.        Pola-pola komunikasi yang khas dapat berkembang atau berubah dalam suatu kelompok kebudayaan khusus tertentu.
2.        Kesamaan tingkah laku antara satu generasi dengan generasi berikutnya hanya dimungkinkan berkat digunakannya sarana-sarana komunikasi.
Sementara Smith (1966) menerangkan hubungan yang tidak terpisahkan antara komunikasi dan kebudayaan yang kurang lebih sebagai berikut: Kebudayaan merupakan suatu kode atau kumpulan peraturan yang dipelajari dan dimiliki bersama; untuk mempelajari dan memiliki bersama diperlukan komunikasi, sedangkan komunikasi memerlukan kode-kode dan lambang-lambang yang harus dipelajari dan dimiliki bersama.
Hubungan antara individu dan kebudayaan saling mempengaruhi dan saling menentukan. Kebudayaan diciptakan dan dipertahankan melalui aktifitas komunikasi para individu anggotanya. Secara kolektif prilaku mereka secara bersama-sama menciptakan realita (kebudayaan) yang mengikat dan harus dipatuhi oleh individu agar dapat menjadi bagian dari unit. Maka jelas bahwa antara komunikasi dan kebudayaan terjadi hubungan yang sangat erat:
  1. Disatu pihak, jika bukan karena kemampuan manusia untuk menciptakan bahasa simbolik, tidak dapat dikembangkan pengetahuan, makna, simbol-simbol, nilai-nilai, aturan-aturan dan tata, yang memberi batasan dan bentuk pada hubungan-hubungan , organisasi-organisasi dan masyarakat yang terus berlangsung. Demikian pula, tanpa komunikasi tidak mungkin untuk mewariskan unsur-unsur kebudayaan dari satu generasi kegenerasi berikutnya, serta dari satu tempat ke tempat lainnya. Komunikasi juga merupakan sarana yang dapat menjadikan individu sadar dan menyesuaikan diri dengan subbudaya-subbudaya dan kebudayaan-kebudayaan asing yang dihadapinya. Tepat kiranya jika dikatakan bahwa kebudayaan dirumuskan, dibentuk, ditransmisikan daan dipelajari melalui komunikasi.
  2. Sebaliknya, pola-pola berpikir, berprilaku, kerangka acuan dari individu-individu sebahagian terbesar merupakan hasil penyesuaina diri dengan cara-cara khusus yang diatur dan dituntut oleh sistem sosial dimana mereka berada. Kebudayaan tidak saja menentukan siapa dapat berbicara dengan siapa, mengenai apa dan bagaimana komunikasi sebagainya berlangsung, tetapi juga menentukan cara mengkode atau menyandi pesan atau makna yang dilekatkan pada pesan dan dalam kondisi bagaimana macam-macam pesan dapat dikirimkan dan ditafsirkan.

Singkatnya, keseluruhan prilaku komunikasi individu terutama tergantung pada kebudayaanya. Dengan kata lain, kebudayaan merupakan pondasi atau landasan bagi komunikasi. Kebudayaan yang berbeda akan menghasilkan praktek-praktek komunikasi yang berbeda pula.

BAB III
KESIMPULAN

Berdasarkan uraian yang diatas, maka dapat kita simpulkan kenapa kita harus belajar Komunikasi Lintas Budaya.
1.  Dunia sedang menyusut dan kapasitas untuk memahami keanekaragaman budaya sangat diperlukan.
2. Semua budaya berfungsi dan penting bagi pengalaman anggota-anggota budaya tersebut meskipun nilai-nilainya berbeda.
3. Nilai-nilai setiap masyarakat se”baik” nilai-nilai masyarakat lainnya.
4.  Setiap individu dan/atau budaya berhak menggunakan nilai-nilainya sendiri.
5.  Perbedaan-perbedaan individu itu penting, namun ada asumsi-asumsi dan pola-pola budaya mendasar yang berlaku.
6. Pemahaman atas nilai-nilai budaya sendiri merupakan prasyarat untuk mengidentifikasi dan memahami nilai-nilai budaya lain.
7. Dengan mengatasi hambatan-hambatan budaya untuk berhubungan dengan orang lain kita memperoleh pemahaman dan penghargaan bagi kebutuhan, aspirasi, perasaan dan masalah manusia.
8.  Pemahaman atas orang lain secara lintas budaya dan antar pribadi adalah suatu usaha yang memerlukan keberanian dan kepekaan. Semakin mengancam pandangan dunia orang itu bagi pandangan dunia kita, semakin banyak yang harus kita pelajari dari dia, tetapi semakin berbahaya untuk memahaminya.
10. Keterampilan-keterampilan komunikasi yang diperoleh memudahkan perpindahan seseorang dari pandangan yang monokultural terhadap interaksi manusia ke pand
angan multikultural.
11.  Perbedaan-perbedaan budaya menandakan kebutuhan akan penerimaan dalam komunikasi, namun perbedaan-perbedaan tersebut secara arbitrer tidaklah menyusahkan atau memudahkan.
12.  Situasi-situasi komunikasi antar budaya tidaklah statik dan bukan pula stereotip. Karena itu seorang komunikator tidak dapat dilatih untuk mengatasi situasi. Dalam konteks ini kepekaan, pengetahuan dan keterampilannya bisa membuatnya siap untuk berperan serta dalam menciptakan lingkungan komunikasi yang efektif dan saling memuaskan.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Leach, Edmund. Culture and Communication, The Logic by which symbols are connected. Cambridge University Press. 1976
  2. Liliweri, Alo. Gatra-Gatra Komunikasi Antar Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2001
  3. Mulyana, Deddy, Jalaluddin Rakhmat. (Editor) Komunikasi antar Budaya. Panduan berkomunikasi dengan orang-orang berbeda budaya. Bandung: Remaja Rosda Karya. 1996
  4. Samovar, Larry A, Richard E Porter. Communication Between Cultures. 5th edition, Thomson wadsworth. 2004
  5. Varner, Iris, Linda Beamer. Intercultural Communication in The Global Workplace. 3rd edition. Mcgraw-Hill International. 2005

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar