Tafsiran Kisah Para Rasul 2:42

Bertekun dalam pengajaran dan persekutuan
Tafsiran terhadap Kis. 2:42. Hasil Kolaborasi bersama rekan biblika DYN

“Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa” – Kis. 4:42

Jika kita mencermati Kisah 2:41-47 (menurut pembagian mayoritas versi terjemahan Alkitab), kita akan menemukan dua topik penting yang didiskusikan di seputar bagian ini, yaitu:

a. Apakah tema “kesatuan” (unity) atau “kebersamaan” (togetherness) yang terdapat dalam kitab ini, secara khusus terindikasi dalam Kisah 2:42 merupakan sesuatu yang bersifat kenyataan yang memang benar-benar ada dalam gereja mula-mula, khususnya gereja di Yerusalem tidak lama sesudah peristiwa Pentakosta, ataukah gambaran kesatuan atau kebersamaan itu hanyalah sebuah idealisasi semata? Beberapa ahli memandang gambaran kesatuan atau kebersamaan itu sama sekali tidak realistik lalu mengusulkan bahwa itu hanyalah semacam idealisasi namun pada kenyataannya tidak demikian. Beberapa ahli lain memberikan sejumlah pembelaan bahwa gambaran tersebut benar-benar realistis dan tidak dapat dianggap sebagai idealisasi semata.(Alan J. Thompson, 2008:523-542)
b. Masih berhubungan dengan topik kesatuan di atas, lebih khusus Kisah 2:44-45 (juga 4:32-35) mengenai ei=con a[panta koina. (“segala kepunyaan mereka sebagai kepunyaan bersama”), juga didiskusikan: Apakah catatan-catatan ini mengindikasikan bahwa terdapat semacam bentuk komunisme primitif dalam gereja mula-mula?(Steve Walton)
Selain kedua topik besar di atas, secara literer, tampaknya para pakar juga berbeda pendapat dalam hal pembagian batas naratifnya. Semua penafsir menerima bahwa Kisah 2 dapat dibagi menjadi tiga bagian besar, yaitu narasi mengenai peristiwa Pentakosta; khotbah Petrus; dan cara hidup jemaat mula-mula di Yerusalem. Namun, mereka berbeda pendapat dalam hal apakah ayat 41 dimasukkan ke dalam bagian mengenai khotbah Petrus (2:14-41) atau dimasukkan ke dalam bagian mengenai cara hidup jemaat mula-mula (2:41-47).
Dalam ulasan ini, penulis akan memusatkan perhatian untuk membahas secara eksegesis Kisah 2:42. Pembahasan eksegesis dengan fokus pada ayat ini tentu akan dilakukan dalam pertimbangan yang menyangkut konteks naratifnya. Meski demikian, penulis akan memberikan argument literer yang menjustifikasi fokus pembahasan ini yang di dalamnya melibatkan pembahasan akan isu mengenai batasan naratif yang sudah di singgung dalam paragraf sebelumnya. Selanjutnya, penulis akan mengelaborasi unsur-unsur penting dari Kisah 2:42 yang diakhiri dengan penempatannya dalam konteks diskusi yang lebih luas, yaitu diskusi teologis mengenai unsur-unsur tersebut. Analisis Literer: Batasan Teks dan Fokus Pengamatan

Seperti yang telah disinggung di atas, isu penting yang akan dibahas di sini adalah apakah Kisah 2:41 cocoknya dimasukkan ke dalam bagian sebelumnya yaitu khotbah Petrus ataukah dimasukkan ke dalam bagian sesudahnya yaitu cara hidup jemaat di Yerusalem tidak lama sesudah peristiwa Pentakosta? Dalam rangka menjawab pertanyaan ini, penulis akan memusatkan perhatian pada argumen-argumen literer dari tiga pakar yang menulis tafsiran dari aspek literer terhadap kitab ini, yaitu Robert C. Tannehill, Charles H. Talbert – Craig S. Keener, dan Ian Howard Marshall – Ben Witherington.

1. Tannehill (2:14-41, 42-47)

Untuk memahami isu ini, kita perlu mengenal dua unsur literer dalam kerangka novelistik dari Gerard Gennette, yaitu “adegan” (schene) dan “ringkasan” (summary) sebagai dasar pembagian literernya (Gerard Gennette). Adegan adalah unsur literer yang menggambarkan suatu peristiwa khusus dalam sejumlah detail yang biasanya terdapat dialog antar karakter atau tokoh di dalamnya serta mengandung rujukan waktu mengenai peristiwa spesifik yang dirujuknya serta seringkali bersifat dramatis. Sementara itu, ringkasan adalah unsur literer yang mengkombinasikan hasil dari sejumlah peristiwa sehingga unsur waktu atau kronologinya tidak terlalu mendapat penekanan (Gennette).
Bertolak dari dua karakteristik literer di atas, menurut Tannehill, ayat 41(“Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa”) masih mengandung rujukan waktu spesifik yaitu rujukan kepada peristiwa Pentakosta dan khotbah Petrus yang dramatis itu, maka ayat ini lebih cocok dimasukkan ke dalam adegan kedua dalam Kisah 2, yaitu khotbah Petrus (ay. 14-41) (Robert C. Tannehill, 1990:43). Selanjutnya, ayat 42-47 tampaknya tidak mengandung rujukan waktu, melainkan lebih bersifat gambaran ringkas mengenai karakteristik-karakteristik dari kehidupan jemaat Yerusalem tidak lama sesudah adegan pertama (peristiwa Pentakosta) dan adegan kedua (khotbah Petrus). Itulah sebabnya, kita tidak mendapati penekanan akan aspek rujukan waktu dalam bagian ini.( Tannehill ). Pembagian ini juga diikuti oleh Ajith Fernando yang menulis, “Deskripsi mengenai peristiwa-peristiwa pada hari Pentakosta berakhir dengan sebuah pernyataan spektakular bahwa tiga ribu orang ‘ditambahkan pada jumlah mereka’ (2:41) – hasil dari pemberitaan Injil pertama dari apa yang kita sebut sebagai era Roh Kudus.” (Gerard Gennette, 1980:109-110)

2. Talbert dan Keener (2:14-40, 41-47)

Sama seperti Tannehill, Talbert juga melihat bahwa bagian ketiga dari Kisah 2 merupakan sebuah ringkasan (summary).(Talbert) Namun berbeda dengan Tannehill, Talbert menganggap bahwa ringkasan itu justru sudah dimulai dalam ayat 41. Talbert mendasarkan argumennya mengenai pembagian teks ini berdasarkan pengamatan fitur literernya. Talbert melihat bahwa ayat 41-47 mengandung unsur khiastik yang menyatukan ayat-ayat ini. Jadi, pengulangan tema penginjilan dalam ayat 41 dan ayat 47, kemudian pengulangan tema mengenai kehidupan jemaat secara umum dalam ayat 42 dan ayat 44-47a yang pusatnya adalah tema mengenai tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat dalam ayat 43, menjadi dasar penggabungan ayat 41 ke dalam bagian ringkasan tersebut.(Kingsley Barrett). Beberapa tema spesifik ini dikelompokkan Talbert menjadi dua tema besar sebagai hasil dari peristiwa Pentakosta, yaitu: pertama, jumlah petobat baru (lebih dari tiga ribu orang); dan kedua, terbentuknya sebuah komunitas iman yang baru dengan cara hidup yang baru pula.(Talbert) Keener, dalam sebuah artikel ilmiah mengenai Pentakosta dalam Kisah 2, memberikan pembagian yang sama dengan yang dikemukakan Talbert. Sama seperti Talbert, Keener juga melihat adanya struktur khiastik dari ayat 41-47, walau dalam pokok-pokok yang berbeda dengan Talbert. Struktur khiastik yang dilihat Keener dari bagian ini, yaitu:

Ay. 41 – Penginjilan yang efektif.
Ay. 42 – Ibadah, perjamuan, dan doa bersama.
Ay. 44-45 – Kepemilikan bersama.
Ay. 46 – Ibadah, perjamuan, dan doa bersama.
Ay. 47 – Penginjilan yang efektif.( Craig S. Keener, 2009:70)

Terlihat jelas bahwa Keener tidak menyertakan ayat 43 karena tidak cocok dengan penekanan yang hendak ia perlihatkan yaitu bahwa bagian ini dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan: “Apakah yang harus dilakukan?,” sebagai respons yang tepat atas panggilan pertobatan yang dikemukakan oleh Petrus, bahkan yang berulang kali terdapat dalam Injil Lukas dan Kisah Para Rasul (bnd. Luk. 3:8; 18:22; Kis. 16:34) (Keener)

3. Marshall dan Witherington (2:14-42, 43-47)

Sama seperti Tannehill dan Talbert, Marshall juga melihat bagian ketiga dari Kisah 2 sebagai sebuah ringkasan (summary). Bahkan Marsahl menulis,

Salah satu karakteristik Lukas adalah memisahkan berbagai insiden dalam bagian pertama Kisah Para Rasul dengan menggunakan paragraf ringkas berupa rangkuman atau ayat-ayat yang mengindikasikan situasi jemaat pada beberapa tahap dalam progresnya.(Ian Howard Marsahll, 2008:83)

Meski demikian, berbeda dengan Tannehill maupun Talberb, Marshall percaya bahwa bagian rangkuman itu baru terdapat pada ayat 43-47. Tampaknya Marshall berpandangan bahwa ayat 41-42 merupakan bagian dari hasil khotbah Petrus, itulah sebabnya ia memasukkan kedua ayat ini ke dalam adegan mengenai khotbah Petrus.(Ibid)
Pembagian di atas juga terdapat dalam buku tafsiran yang ditulis oleh Ben Witherinton III. Witherinton mengusulkan pembagian demikian (2:14-42) karena ia melihat ayat 41-42 sebagai bagian dari retorika Petrus:

a. Bantahan terhadap tuduhan bahwa mereka mabuk oleh anggur (ay. 14-21);
b. Serangan balik Petrus bahwa orang-orang Yahudi telah membunuh Yesus (ay. 22-36) di mana hasil dari argumen pada bagian ini terdapat dalam ayat 37;
c. Petrus menggunakan retorika deliberatif untuk memberitahukan respons yang tepat yang harus diambil para audiensnya (ay. 38-40); dan
Hasil keseluruhan dari retorika Petrus (ay. 41-42) .( Ben Witherinton III , 1998:138) Meski demikian, Witherington sendiri memberikan sub pokok bahasan yang memperlihatkan bahwa ia menganggap bagian rangkuman itu terdapat pada ayat 42-47. Ia menyatakan bahwa ayat 42-47 merupakan bagian rangkuman pertama yang memperlihatkan interior spiritual jemaat mula-mula di Yerusalem.( Witherinton ). Jadi, dari aspek retorikalnya, Witherington melihat adanya alasan memasukkan ayat 41-42 ke dalam adegan mengenai pidato Petrus, namun dari segi kaitan literernya, Witherington menganggap bahwa adegan tersebut berakhir pada ayat 41, sedangkan ayat 42 dan seterusnya merupakan bagian rangkuman yang pertama. Menurut Witherington, kita harus membedakan antara pernyataan ringkasan (summary statement) dan paragraf ringkasan (summary passage). Ayat 41 merupakan pernyataan ringkasan dari adegan pidato Petrus, sedangkan ayat 42-47 tercakup dalam paragraf ringkasan. .( Ben Witherinton III , 1998:138)


C. Eksegesis Kisah 2:42

1. Identitas: h=san

Kata h=san (imperfek indikatfi aktif, orang ketiga jamak dari kata eivmi,) yang dalam ITB dan BIS diterjemahkan dengan “mereka” digunakan dalam ayat ini untuk memperlihatkan mengenai identitas orang-orang yang melakukan aktivitas-aktivitas yang disebutkan dalam ayat ini. Dalam paragraf rangkuman ini, kata ini muncul dalam ayat 42 dan ayat 44. Pertanyaannya, siapakah “mereka” itu?
Pertanyaan di atas kelihatannya mudah dijawab karena kita bisa langsung merujuk kepada ayat 41yang berbunyi: “Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa”. Artinya rujukan dari kata h=san dalam ayat 42 adalah orang-orang yang bertobat atas pemberitaan Petrus (terindikasi dari penggunaan to.n lo,gon auvtou/ - “perkataannya”; ay. 41). Tetapi, siapakah orang-orang yang bertobat melalui pemberitaan Injil yang dilakukan oleh Petrus itu? Orang-orang yang dibicarakan dalam ayat 41 adalah orang-orang yang “terharu, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul lainnya: ‘Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?’” (ay. 37). Orang-orang ini, ketika menyampaikan pidatonya, disebut oleh Petrus dengan sebutan avdelfoi, (“saudara-saudara” – ay. 29). Sebutan avdelfoi, dalam ayat ini adalah sebutan yang digunakan untuk menyebut sesama orang Yahudi.( H. Von Soden,) Selain itu, di dalam pidatonya, Petrus menggunakan PL untuk membuktikan kemesiasan Yesus dan secara tidak langsung mendukung gagasan bahwa audiensnya adalah orang-orang Yahudi yang datang menghadiri perayaan Pentakosta di Yerusalem pada waktu itu.( Ian Howard Marshall )
Menurut David Seccombe, “Kisah Para Rasul mengisahkan kisah tentang sebuah gerakan yang awalnya secara total bersifat Yahudi menuju kepada dunia kafir. Gereja-gereja yang terdapat dalam pasal-pasal awal Kisah Para Rasul 100 persen adalah orang-orang Yahudi.”( David Seccombe). Meski demikian, menurut hemat penulis kita tidak boleh menyimpulkan bahwa rujukan dari kata h=san dalam ayat 42 secara khusus adalah orang-orang Yahudi saja. Dalam Kisah 2:11, disebutkan mengenai VIoudai/oi, kai. prosh,lutoi (“orang-orang Yahudi dan orang-orang proselit”). Orang-orang proselit adalah orang-orang non Yahudi yang bukan hanya menganut agama Yahudi namun juga menerima penanda identitas Yahudi berupa sunat. Hal ini membedakan mereka dari “orang-orang yang takut akan Allah: (sebo,menoi; bnd. Kis. 13:43; 17:4) yang menganut agama Yahudi namun tidak menerima sunat.( Software version of BibleWorks 6]. Memang ayat 42 secara khusus berbicara mengenai jemaat Kristen yang tinggal di Yerusalem, sedangkan rujukan mengenai VIoudai/oi, kai. prosh,lutoi dalam 2:11 merujuk secara umum kepada semua orang yang hadir pada perayaan Pentakosta baik dari Yerusalem maupun dari luar Yerusalem. Namun, kita dapat mengasumsikan bahwa bisa jadi ada di antara kaum proselit yang hadir pada peristiwa Pentakosta itu turut bertobat dan menjadi bagian dari komunitas Kristen perdana di Yerusalem pada waktu itu. Jadi, sangat mungkin bahwa kata h=san dalam ayat 42 merujuk baik kepada orang-orang Yahudi maupun non Yahudi [yang awalnya adalah proselit] di Yerusalem yang bertobat melalui pidato Petrus (termasuk juga para rasul lain; bnd. 2:14, 37).
Dari segi signifikansi historis-teologisnya, “mereka” yang disebutkan dalam Kisah 2:42-47 merupakan jemaat perdana yang menandai awal munculnya komunitas pengikut Kristus. Hari Pentakosta yang dicatat dalam Kisah 2 adalah hari lahirnya komunitas pengikut Kristus yang nantinya disebut sebagai orang-orang Kristen di Antiokhia dalam Kisah 6:11. Itulah sebabnya, professor F.F. Bruce menyatakan, “Hari lahir gereja Yerusalem merupakan hari lahir dari gereja Kristen secara keseluruhan.” Bruce melanjutkan bahwa “mereka” adalah “sebuah kontinuitas organik antara umat Allah pada masa PB dan umat Allah pada masa PL” dan peristiwa Pentakosta merupakan “menandai awal yang baru” dari pembentukkannya.
Selain itu, sebelum mengakhiri bagian ini, perlu diberikan catatan juga bahwa memang penulis telah menggunakan istilah “gereja” atau “jemaat” cukup sering di atas. Namun, secara eksegetis, istilah-istilah ini agak anakronis dalam kontkeks penulisan Lukas. David Seccombe memperlihatkan bahwa komunitas orang percaya yang digambarkan dalam pasal-pasal pertama Kisah Para Rasul, tidak disebut dengan istilah “gereja” (evkklhsia). Bahkan terkesan, Lukas menghindari penggunaan istilah ini. Lukas hanya menggunakan penggambaran umum, misalnya “mereka yang bertekun” atau “mereka yang percaya” atau “saudara-saudara yang berkumpul” (1:14, 15; 2:1, 42, 44, 47; 4:23, 32). Seccomber berkomentar bahwa “Tampaknya ia ingin kita melihat komunitas itu sebagaimana adanya, tanpa pra-asumsi melalui penamaan yang telah menjadi simbol konflik pada era tahun 60an M.” Tidak heran, Seccombe menyatakan, “Komunitas yang kita jumpai dalam pasal-pasal pertama Kisah Para Rasul – para pengikut Yesus di Yerusalem berkumpul di rumah-rumah dan di Bait Suci – adalah sebuah komunitas tanpa nama.” Jadi, dalam rangka kemudahan, kita bisa saja menyebutnya “jemaat” atau “gereja” di Yerusalem, namun itu harus dilakukan dengan mengingat bahwa “Lukas tidak menyebutnya demikian”.

Berlanjut

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.